“Memangnya boleh ya salat nggak pake sajadah?” tanya seorang teman beragama nasrani. Ketika itu saya hendak melaksanakan salat isya munfarid di rumah. Sajadah yang biasa saya gunakan belum kering setelah dicuci, sehingga saya menggunakan sebuah kain polos untuk alas.

Ternyata, dalam pandangan seorang nasrani, sajadah (termasuk mukena) merupakan seperangkat pakaian salat yang wajib digunakan untuk para muslimah salat. Bahkan mungkin umat Islam sendiri pun beranggapan demikian.

Hal itu terjadi karena mayoritas muslimah Indonesia membawa mukena dan sajadah sebagai paket yang tak terpisahkan ketika akan pergi ke masjid. Pemandangan ini banyak dilihat pada bulan Ramadhan, Salat Ied, atau salat jamaah lainnya.

Dibandingkan dengan kaum adam, muslimah, seringnya para Ibu, lebih rajin membawa sajadah. Sekilas, ini  menunjukkan hal yang positif, namun sebenarnya justru menimbulkan masalah yang bisa digolongkan cukup fatal. Mengapa demikian?

Sajadah yang dianggap  benda wajib dalam pelaksanaan salat, membuat para produsen terus mengembangkan berbagai desain, motif, dan ukuran sajadah yang kian menarik konsumen. Ada sajadah yang berukuran sangat kecil, bahkan ada yang sangat besar. Sajadah ukuran besar harusnya bisa dipakai untuk salat dua orang, tapi digunakan oleh satu orang karena memang setiap orang sudah membawa sajadah masing-masing.

Ini menyebabkan jarak antara satu jamaah dengan jamaah lainnya terlalu renggang. Kerenggangan shaf  ini juga menimbulkan ketidakrapian barisan, tidak lurus. , bukankah kita harus merapatkan barisan dalam salat?

“Dulu kami (para sahabat) merapatkan antara pundak-pundak dan kaki-kaki kami (dalam salat),” ( Hadis Shahih Bukhari dari riwayat sahabat Anas ).

“Rapatkan shaf kalian, luruskan pundak-pundak, tutup kerengangan jarak kalian, lemah lembutlah terhadap saudara-saudara kalian dan jangan biarkan syaitan menyelinap di antara rengggang shaf kalian, ” (Sunan Abu Daud dengan sanad shahih).

Menurut hadis tersebut, yang dimaksud dengan merapatkan barisan adalah dengan cara merapatkan pundak dan kaki dengan posisi garis yang sama (lurus).

Namun, pada kenyataannya, fenomena yang kerap terjadi justru yang dirapatkan adalah sajadah, bukan pundak maupun kaki. Mengingat sajadah yang banyak digunakan saat ini berukuran besar, sehingga shaf menjadi renggang luar biasa saat salat berjamaah.

Selain  kerenggangan shaf, sajadah terlalu lebar juga dapat merenggut hak orang lain untuk turut berjamaah. Beberapa kaum Ibu kembali ke rumah lantaran masjid sudah penuh, ketika akan melaksanakan tarawih di bulan Ramadhan lalu, karena shafnya terlalu renggang, banyak space yang terbuang sia-sia. Padahal, seharusnya jika barisannya rapat bisa diisi dengan lebih banyak orang.

Sungguh luar biasa trend sebuah sajadah, sebuah alas ibadah yang justru memisahkan jamaah. Masalah ini memang sebuah masalah klasik yang bahkan sudah sering saya temui sejak kecil di masjid dekat rumah. Namun sampai saat ini belum juga ada solusi untuk mengatasi masalah ini. Solusi yang ditawarkan dalam hadis di atas adalah dengan berbicara secara lembut kepada jamaah lain untuk merapatkan shaf.

Hal itu tentu harus kita lakukan, namun tak bisa sendiri. Karena sendiri dalam kerja ini ibarat satu batang lidi, yang tak lebih mampu menjangkau daun-daun gugur di bawah sebuah pohon rindang, jika dibandingkan dengan sekumpulan lidi yang kokoh.

Mari saling membantu, mengingatkan, menegakkan aqidah dan syariat Islam. Termasuk mengenai kerapatan shaf salat yang kini hampir terlupakan karena trend design dan ukuran sajadah, sebuah alas untuk ibadah.