Semua berawal dari keprihatinan Sania. Saat masih remaja, ketika musim panen raya buah salak di desanya tiba, sebagian besar salak petani membusuk  karena tak laku dijual.

Justru kondisi petani salak di Desa Morkolak, Kecamatan Keramat, Kabupaten Bangkalan itu yang membuat Sania berpikir untuk menolong petani. “Saya ingin mengubah nasib mereka,” kata Sania, 49 tahun

Dengan modal uang Rp. 200 ribu, Sania yang waktu di egiatan kelompok tani Ambudi, mengajak sejumlah tetangga dan anggota kelompok Ambudi untuk mengolah buah salak menjadi kue dodol dan sirup salak.

Setelah lulus uji coba masa kedaluarsa, produk hasil bondo nekat itu di lempar ke pasaran. Tapi langkahnya itu kurang mulus, karena dodol dan sirup salak buatannya itu tak dilirik pembeli.

Sania kemudian mencoba membuat olahan salak menjadi kurma salak. Cara pembuatannya sederhana, buah salah yang sudah dikupas dan dibersihkan kemudian direbus selama tiga jam.

Dua kilogram salak yang rebus ini dicampur dengan satu kilogram gula pasir untuk dibuat adonan. Setelah itu, adonan ini dimasukkan dalam oven,  dan jadilah kurma salak. “Masa kedaluarsanya lebih lama,  yaitu lima bulan,” kata Sania. Ternyata, kurma salak buatan Sania laku keras.

Selain kurma salak, dodol dan sirup. Sania juga mengembangkan produk olahan buah salak lainnya, yakni kismis salak, minuman segar pelancar BAB (buang air bear), dan olahan kulit salak yang bisa menurunkan tensi darah.

Kesuksesan kurma salak ini, juga bisa menciptakan lapangan kerja bagi warga Desa Morkolak terutama kaum perempuan. Kini Sania mempekerjakan 70 anggota kelompok taninya secara bergiliran. Tiap harinya ada  4 orang yang bekerja di rumah Sania.

Dengan kerja keras dan kreatifitasnya itu, tiap bulannya Sania bisa memperoleh keuntungan bersih Rp 2,5 juta, dari modal Rp 700 ribu. Selain kocek mengalir, hidup Sania juga berubah. Sania kerap didapuk sebagai pembicara dalam sejumlah seminar tentang kewirausahaan.

Sayangnya produk rumahan kebanggaan Bangkalan ini lemah dalam pemasaran. Di Kabupaten Bangkalan sendiri hanya ada tiga lokasi yang menjual kurma salak. Sania mengatakan, tahun 2011 ini akan membenahi cara pemasaran. “Masalahnya saya itu masih malu adi sales keliling,” ujarnya.

Meski Kurma salak sudah menjadi produk kebanggaan Bangkalan, Sania mengaku belum pernah dikunjungi Bupati dan Anggota DPRD Bangkalan. “Saya harap bupati mau ke sini, supaya dia tahu jalan ke desa kami perlu diperluas,” katanya. Sania bercita-cita Desa Morkolak dijadikan agrowisata salak.

sumber : tempo