Ratusan nelayan di Desa Banyu Sangkah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan,  tidak melaut karena cuaca sedang tidak bersahabat sejak sepekan terakhir.

“Saya bersama nelayan lainnya tidak berani melaut, karena ombak dan angin yang kencang,” kata salah seorang nelayan Desa Banyu Sangkah, Moh Kabil, Rabu.

Menurut Kabil, pihaknya khawatir jika memaksakan diri untuk melaut perahunya akan terbalik karena tersapu ombak sebab ketinggian ombak akhir-akhir ini mencapai dua meter.

“Kami tidak ingin mencari resiko lebih besar dengan melaut saat keadaan cuaca tak bersahabat seperti ini, lebih baik istirahat di rumah hingga cuaca kembali normal,” ungkapnya.

Akibat tidak melaut, sambung Kabil, dirinya tidak mempunyai pemasukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan, ia berencana akan menggadaikan barang berharganya demi sesuap nasi.

“Kalau tidak begitu, kami tidak bisa makan karena sudah tidak lagi bekerja sebagai nelayan dan tidak ada simpanan,” ucapnya.

Ia menambahkan, pihaknya hanya menghabiskan waktu dengan memperbaiki jaring yang rusak serta memarkir perahu di tangkis laut. Hal itu dilakukan agar aman dari terjangan ombak yang mengganas.

“Ada juga nelayan yang mengeringkan ikan hasil tangkapan beberapa waktu lalu. Itu pun mereka saat melaut tidak berani ke tengah, hanya di pinggir laut,” paparnya.

Kabil berharap, pemerintah daerah peka terhadap kondisi nelayan saat ini. Pasalnya, banyak nelayan yang tidak melaut karena cuaca tidak bersahabat secara otomatis berpengaruh pada keluarga masing-masing.

“Kami menginginkan ada bantuan dari pemerintah pada nelayan karena sudah tidak melaut sejak seminggu lalu,” urainya.

Akibat banyak nelayan yang tidak melaut, hasil tangkapan ikan berkurang, bahkan harga ikan laut di pasaran kini cendrung naik.

“Naiknya separuh harga, biasanya hanya Rp12 ribu untuk ikan tongkol, sekarang ini menjadi Rp20 ribu bahkan ada yang menjual Rp25 ribu,” kata salah seorang ibu rumah tanggal di Tanjung Bumi, Bangkalan, Hosniyah.