Menteri Pekerjaan Umum (Menpu), Djoko Kirmanto, menekankan agar perawatan Jembatan Suramadu dilakukan secara serius sehingga jembatan terpanjang se asia tenggara itu dapat bertahan 100 tahun. Penegasan itu disampaikan Djoko ketika launching Structural Health  Monitoring System (SHMS) jembatan Suramadu sisi Madura, di Desa Labang, Kec. Labang, Bangkalan.
Ditegaskan Djoko, pengoperasian SHMS tersebut untuk mendeteksi kerusakan lebih dini, sehingga  menjaga dari segala kemungkinan terjadinya kerusakan jembatan dengan melakukan perbaikan secara cepat dan tepat.

’’Pengunaan SHMS tersebut sangat dibutuhkan untuk mengetahui keberadaan dan situasi yang ada di jembatan Suramadu. Misalnya, dapat mengetahui kecepatan angin dan arus lalu lintas, serta mendeteksi dini kerusakan jembatan,’’ terang Kirmanto, saat meresmikan SHMS di Desa Labang, Senin (30/4).
SHMS juga dapat mengirim data dan memperkirakan kekuatan struktur jembatan pasca gempa ataupun ketika terjadi badai, sehingga petugas dapat memutuskan apakah jembatan aman dilewati atau tidak.  ’’Fasilitas SHMS itu dilengkapi dengan 514 sensor yang dipasang di seluruh badan jembatan. Sehingga pemeliharaan jembatan akan lebih maksimal. Oleh karena itu saya minta agar menempatkan SDM yang handal di bidangnya,’’ kata Djoko.

Namun ia mengingatkan, karena alat itu baru pertamakali diujicobakan, tentu saja tidak mungkin langsung berjalan efektif seperti yang diinginkan. Tapi paling tidak dalam dua minggu dia akan meminta laporan, apa yang terdeteksi melalui alat itu akan dapat diketahui secara optimal tingkat kerusakan jembatan yang harus ditangani secepatnya.

Sementara itu Ismail Kepala B2PJN v Jatim, menambahkan, alat pendeteksi itu sangat peka, melakukan  pengamatan dan pemantauan dari beban kendaraan yang melintas, bahkan dapat mengetahui bobot kendaraan yang melintasi jembatan lebih dari 10 ton, maka sensor langsung memberikan laporan berupa bunyi alarm secara otomatis

sumber : surabayapost