Pembukaan dan peresmian Hypermart di Bangkalan Plaza, Kamis (10/5/2012) diwarnai aksi penolakan oleh sejumlah warga Bangkalan, yang mengatasnamakan masyarakat bersatu peduli pedagang kecil dan anti kapitalisme. Mereka menilai kehadiran pasar modern yang lokasinya berdempetan dengan pasar tradisional akan mengganggu keberadaan pedagang kecil yang ada di pasar Ki Lemah Duwur, sehingga massa meminta manajemen harus memperbaharui sistemnya serta meminta jaminan kesejahtraan para pekerja.

“Kedatangan kami untuk menolak kedatangan pasar Hypermart, sebab akan menggangu stabilitas perekonomian di pasar tradisional yang jaraknya sangat berdekatan,” triak Hardiansyah, koorlap aksi dalam orasinya.

Hardiansyah menegaskan, pemerintah Bangkalan harus mesinergikan keberadaan pasar Ki Lemah Duwur dengan Bangkalan Plaza, sejahtrakan pedagang kecil dan para PKL, jangan hanya membela pengusaha yang membawa upeti besar.

“Kami berharap Pemkab Bangkalan memenuhi janji-janji manisnya untuk melakukan pembangunan besar dan manfaatnya akan dikembalikan pada masyarakat kecil, untuk wakil rakyat segera realisasikan Perda perlindungan pasar tradisional,” ungkapnya.

Hardiansyah menjelaskan, pihaknya juga meminta pengusaha Hypermart untuk membayar gaji dan upah pekerja minimal sesuai dengan UMK Bangkalan serta memenuhi jaminan social mereka.

“Kami minta jam buka harus sama dengan yang ada di derah lain seperti Surabaya jam 10.00 wib, karena kasian keberadaan pasar tradisional yang ada di sebelahnya,” tukasnya.

sumber : seruu